Merawat Hati yang Kehilangan Kehalusannya
Pernah tidak, saat scrolling media sosial di pagi hari, tiba-tiba linimasa disuguhi tulisan yang bikin hati rasanya terenyuh sekaligus ngelus dada?
Melihat cuitan dari akun @kafiradikalis beberapa hari lalu yang memuat narasi begitu vulgar dan kasar, ada rasa sedih yang membekas. Kok bisa ya, jempol kita begitu ringannya mengetik hal-hal yang jangankan dibaca ribuan orang, diucapkan pelan ke diri sendiri saja rasanya tidak tega?
Ada Jiwa di Balik Layar Kaca
Kita boleh berbeda pilihan. Kita sangat berhak merasa marah, kecewa, atau menyuarakan kritik atas keadaan. Namun, saat kritik itu berganti menjadi caci maki yang menelanjangi etika, jujur, yang hilang bukan cuma rasa hormat kita kepada orang lain tetapi juga kehalusan hati kita sendiri.
Saat kita mengetik kata-kata yang merendahkan, kita sering lupa bahwa di balik akun-akun yang kita sasar siapa pun mereka ada manusia.
Ada nurani yang sedang kita lukai, dan ada kualitas diri kita sendiri yang sedang kita pertaruhkan.
Ribuan views atau likes yang dipanen dari amarah dan makian tidak akan pernah sebanding dengan hangatnya rasa saling menghargai.
Menatap Diri Sendiri
Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa-siapa. Ini adalah tamparan lembut untuk diri saya sendiri, sebuah pengingat untuk merawat kembali kehalusan hati yang rentan tergerus oleh kebisingan dunia maya:
Tanyakan pada hati: Sebelum tombol send ditekan, coba hening sejenak. Apakah tulisan ini membawa kebaikan, atau cuma kepuasan sesaat karena berhasil meluapkan benci?
Pilih menjadi sejuk: Di dunia virtual yang sudah sangat panas dan bising ini, memilih untuk tetap santun dan menahan diri adalah bentuk keberanian yang sebenarnya.
Mari belajar merawat jempol dan kata-kata kita. Sebab pada akhirnya, apa yang keluar dari sana adalah cerminan langsung dari sejauh mana kita mampu merawat kehalusan hati kita.

Komentar
Posting Komentar