“Foto yang Sama, Hati yang Berbeda: Saat Kebencian Membutakan Nurani Bangsa”

 


Kadang yang paling menyakitkan bukan fitnahnya…
tetapi betapa mudahnya orang melupakan bahwa setiap manusia punya perjalanan,
punya asal-usul, punya masa lalu yang membentuk siapa dirinya hari ini.

Di tahun 80-an, satu foto studio bukan sekadar gambar
itu adalah hasil menabung, hasil menahan keinginan,
simbol kecil dari mimpi anak muda yang ingin menata hidup.
Foto itu disimpan seperti menyimpan harapan,
dipakai untuk ijazah, untuk buku nikah, untuk semua yang butuh formalitas.

Karena hidup saat itu bukan tentang memilih yang terbaik…
tetapi tentang bertahan dengan yang ada.

Dan hari ini, foto sederhana itu dijadikan tuduhan.
Dipelintir, ditertawakan, dianggap aneh
oleh mereka yang tak pernah merasakan kerasnya hidup pada masa ketika sederhana adalah satu-satunya pilihan.

Padahal foto itu adalah saksi bisu
tentang seorang pemuda yang memulai hidupnya dari papan dan kayu,
dari keringat yang diam-diam ia kumpulkan setiap hari.
Pemuda yang bahkan tidak pernah bermimpi
bahwa suatu saat kelak ia memimpin sebuah bangsa.

Yang mereka serang bukan hanya gambar,
tetapi masa kecilnya…
masa mudanya…
masa paling jujur ketika ia berjalan tanpa sorotan siapa pun.

Ada perih tertentu ketika kesederhanaan dijadikan bahan cemooh.
Ada luka halus yang terasa ketika kejujuran dipelintir menjadi sesuatu yang patut dicurigai.

Dan di tengah riuh rendah fitnah, satu pertanyaan menggantung berat:
bagaimana mungkin kebencian membuat orang kehilangan rasa iba sedalam itu?

Pak Jokowi memilih diam
bukan karena tak mampu menjawab,
tetapi karena ia tahu, membalas benci dengan benci hanya memperpanjang gelap.
Ia sudah pernah hidup dari nol;
ia tahu betul mana luka yang nyata dan mana yang hanya suara kebencian.

Dan bagi kita yang melihat perjalanan hidupnya dari dekat,
tuduhan seperti ini terasa seperti merobek kembali lembar-lembar hidup yang paling ia jaga,
yang paling murni, yang paling manusiawi.

Sungguh…
bukan fotonya yang layak dipertanyakan.
Yang perlu disesali adalah hati yang begitu dingin
hingga tak bisa melihat bahwa kesederhanaan
justru adalah bukti paling tulus dari seseorang yang tidak pernah dibuat-buat.




Dodo orang biasa yang terbiasa berpikir sendiri menolak untuk ikut membenci.Kebumen, 25112025 01:23 WIB

Komentar

Postingan Populer